Posted by Author On Month - Day - Year

POST-SUMMARY-HERE

POST-TITLE-HERE

Posted by Author On Month - Day - Year

POST-SUMMARY-HERE

POST-TITLE-HERE

Posted by Author On Month - Day - Year

POST-SUMMARY-HERE

POST-TITLE-HERE

Posted by Author On Month - Day - Year

POST-SUMMARY-HERE

POST-TITLE-HERE

Posted by Author On Month - Day - Year

POST-SUMMARY-HERE

Sakral_Portal Berita VIVANews salah satu dari Group Bakrie yang baru menjadi pemain baru dalam web portal mempromosikan websitenya dengan melakukan seminar bertema "belajar media online" kepada mahasiswa Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) UPN "Veteran" Jakarta, Jakarta Selatan (20/1).
ini adalah kunjungan pertama VIVAnews go to campus yang baru dilaunching awal tahun ini. "suatu kebanggan bagi kami menjadi yang pertama dikunjungi oleh VIVAnews," ungkap Yani Hendrayani, ketua jurusan komunikasi.

VIVAnews menawarkan tiga konsep untuk menarik minat pengunjung. Dengan adanya TV streming salah satunya selain web portal dan media telepon.

"kedepannya, bukan tidak mungkin akan diadakan kerjasama untuk memajukan bibit-bibit unggul dibidang teknologi khususnya multimedia online," tambah Yani. UPN merupakan Universitas pertama di Jakarta yang mengembangkan TV streming. "untuk itu akan bekerjasama dengan VIVAnews untuk menambah wawasan mahasiswa," tambahnya.

Acara yang berlangsung sekitas dua jam dihadiri sekitar 60 mahasiswa, dan diselingi games. Diahkhir acara Yani Hendrayani memberikan plakat penghargaan kepada perwakilan VIVANews, dan kunjungan VIVANews ke Lab.TV dan Radio yang dimiliki oleh FISIP UPNVJ.(aaL/SAKRAL)
| edit post

Hari Natal

Diposting oleh Sakral On 06.40 0 komentar

menyambut hari Natal yang tinggal dua hari lagi, Sakral Magazine sedikit berbagi mengenai hari natal. Semoga bermanfaat.

Asal mula

Natal (dari bahasa portugis yang berarti "kelahiran") adalah hari raya bagi umat Kristen. Dalam hari ini yang jatuh pada tanggal 25 Desember, kelahiran Yesus kristus diperingati. Meski para pakar dewasa ini sepakat bahwa Yesus kemungkinan besar sebenarnya tidak lahir pada hari ini, hari kelahirannya tetap dirayakan pada tanggal 25 Desember. Hal ini dibuktikan dengan cerita adanya para gembala yang sedang menggembalakan hewan peliharaan mereka. Pada bulan Desember - Januari, di daerah Timur Tengah, justru mengalami musim dingin, sehingga sangat tidak masuk akal untuk menggembalakan hewan pada waktu-waktu tersebut.
Dalam tradisi barat, peringatan Natal juga mengandung aspek non-agamawi. Sebagian besar tradisi Natal berasal dari tradisi pra-Kristen barat yang diadopsi ke dalam tradisi Kristiani. Selain itu, peringatan Natal dalam tradisi barat (yang kian mendunia) ditandai dengan bertukar hadiah antara teman dan anggota keluarga serta datangnya Santa Claus atau Sinterklas.

Pada negara-negara yang berbahasa Arab, hari raya ini disebut dengan idul Milad.

Pohon Natal
Awal mula pohon natal di mulia dari Jerman pada abad ke-16. Pohon Natal biasanya adalah pohon cemara. Pohon cemara mengidentikan warna hijau yang mengingatkan agar kehidupan rohani umat Nasrani selalu bertumbuh dan bisa menjadi kesaksian bagi orang lain.

Martin Luther, tokoh terkemuka gerakan reformasi yang ajaran-ajarannya melahirkan gereja Kristen Protestan, dipercaya sebagai orang pertama yang menghias dahan-dahan pohon Natal dengan lilin yang menyala. Ia terinspirasi ketika melihat keindahan bintang yang berkelap-kelip diantara pohon cemara pada suatu malam saat musim dingin.

Setelah listrik ditemukan, pada awal abad ke-20 orang mulai menghias pohon Natal dengan lampu-lampu Natal sebagai gantinya lilin.

Kado dan Sinterklas
Pemberian kado kepada anggota keluarga dan saudara diperkirakan berawal di Romawi Kuno dan Eropa Utara. Di sana, masyarakat merayakan akhir tahun dengan memberi hadiah.

Sejak akhir tahun 1800 kebiasaan memberi kado menjadi tradisi Natal. Sinterklas adalah tokoh yang memberi hadiah kepada anak-anak di malam Natal. Sinterklas digambarkan sebagai lelaki tua berpakaian merah dan periang dengan janggut putih, pipi merah, dan mata bersinar-sinar.

Kemunculan tokoh Sinterklas diilhami oleh figur seorang uskup bernama Nikolas dari Smyrna (Izmir), sekarang bernama negara Turki.

Nikolas yang kaya, murah hati, dan penyayang anak-anak sering memberikan kejutan kepada anak-anak miskin engan melemparkan hadiah-hadiah ke jendela kamar mereka.(berbagai sumber, aal/tim sakral)

SELAMAT HARI NATAL DAN TAHUN BARU 2009



Sejarah Hari Ibu (bukan mother's day)

Diposting oleh Sakral On 06.48 0 komentar
Hari Ibu adalah hari di mana kaum perempuan dimanja dan dibebaskan dari tugas domestik yang sehari-hari dianggap merupakan kewajibannya, seperti memasak, merawat anak, dan urusan rumah tangga lainnya. Di Indonesia hari ini dirayakan pada tanggal 22 Desember dan ditetapkan sebagai perayaan nasional. Berbeda dengan di Amerika, dan lebih dari 75 negara lain, seperti Australia, Kanada, Jerman, Italia, Jepang, Belanda, Malaysia, Singapura, Taiwan, dan Hongkong yang merayakan Hari Ibu atau Mother’s Day pada hari Minggu di pekan kedua bulan Mei. Di beberapa negara Eropa dan Timur Tengah, Hari Ibu atau Mother’s Day diperingati setiap bulan Maret.

Sejarah Hari Ibu di Indonesia

Sejarah Hari Ibu diawali dari bertemunya para pejuang wanita dengan mengadakan Kongres Perempuan Indonesia I pada 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta, di gedung yang kemudian dikenal sebagai Mandalabhakti Wanitatama di Jalan Adisucipto. Dihadiri sekitar 30 organisasi perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatera. Hasil dari kongres tersebut salah satunya adalah membentuk Kongres Perempuan yang kini dikenal sebagai Kongres Wanita Indonesia (Kowani).

Organisasi perempuan sendiri sudah ada sejak 1912, diilhami oleh perjuangan para pahlawan wanita abad ke-19 seperti M. Christina Tiahahu, Cut Nya Dien, Cut Mutiah, R.A. Kartini, Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Achmad Dahlan, Rangkayo Rasuna Said dan lain-lain.
Peristiwa itu dianggap sebagai salah satu tonggak penting sejarah perjuangan kaum perempuan Indonesia. Pemimpin organisasi perempuan dari berbagai wilayah se-Nusantara berkumpul menyatukan pikiran dan semangat untuk berjuang menuju kemerdekaan dan perbaikan nasib kaum perempuan.

Berbagai isu yang saat itu dipikirkan untuk digarap adalah persatuan perempuan Nusantara; pelibatan perempuan dalam perjuangan melawan kemerdekaan; pelibatan perempuan dalam berbagai aspek pembangunan bangsa; perdagangan anak-anak dan kaum perempuan; perbaikan gizi dan kesehatan bagi ibu dan balita; pernikahan usia dini bagi perempuan, dan sebagainya. Tanpa diwarnai gembar-gembor kesetaraan jender, para pejuang perempuan itu melakukan pemikiran kritis dan aneka upaya yang amat penting bagi kemajuan bangsa.

Penetapan tanggal 22 Desember sebagai perayaan Hari Ibu diputuskan dalam Kongres Perempuan Indonesia III pada tahun 1938. Peringatan 25 tahun Hari Ibu pada tahun 1953 dirayakan meriah di tak kurang dari 85 kota Indonesia, mulai dari Meulaboh sampai Ternate.
Presiden Soekarno menetapkan melalui Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959 bahwa tanggal 22 Desember adalah Hari Ibu dan dirayakan secara nasional hingga kini.

Misi diperingatinya Hari Ibu pada awalnya lebih untuk mengenang semangat dan perjuangan para perempuan dalam upaya perbaikan kualitas bangsa ini. Dari situ pula tercermin semangat kaum perempuan dari berbagai latar belakang untuk bersatu dan bekerja bersama. Di Solo, misalnya, 25 tahun Hari Ibu dirayakan dengan membuat pasar amal yang hasilnya untuk membiayai Yayasan Kesejahteraan Buruh Wanita dan beasiswa untuk anak-anak perempuan. Pada waktu itu panitia Hari Ibu Solo juga mengadakan rapat umum yang mengeluarkan resolusi meminta pemerintah melakukan pengendalian harga, khususnya bahan-bahan makanan pokok. Pada tahun 1950-an, peringatan Hari Ibu mengambil bentuk pawai dan rapat umum yang menyuarakan kepentingan kaum perempuan secara langsung.

Satu momen penting bagi para wanita adalah untuk pertama kalinya wanita menjadi menteri adalah Maria Ulfah di tahun 1950. Sebelum kemerdekaan Kongres Perempuan ikut terlibat dalam pergerakan internasional dan perjuangan kemerdekaan itu sendiri. Tahun 1973 Kowani menjadi anggota penuh International Council of Women (ICW). ICW berkedudukan sebagai dewan konsultatif kategori satu terhadap Perserikatan Bangsa-bangsa.

Kini, Hari Ibu di Indonesia diperingati untuk mengungkapkan rasa sayang dan terima kasih kepada para ibu, memuji ke-ibu-an para ibu. Berbagai kegiatan pada peringatan itu merupakan kado istimewa, penyuntingan bunga, surprise party bagi para ibu, aneka lomba masak dan berkebaya, atau membebaskan para ibu dari beban kegiatan sehari-hari.

Menemukan Akar Gerakan Perempuan Indonesia

Berbagai diskusi sejarah gerakan perempuan Indonesia, biasanya paling sering menyandarkan diri pada tokoh Kartini, yang disebut-sebut sebagai tokoh emansipasi perempuan Indonesia. Walaupun kepahlawanan yang dilabelkan kepada Kartini pantas untuk diragukan. Bukan saja ia tidak melakukan apa pun kecuali hanya imajinasi semata-mata, tetapi ia sendiri bersedia menjadi istri dari laki-laki yang sudah beristri. (Gadis Arivia: 1997). Menguatnya kajian gerakan perempuan bersandar pada Kartini, setidaknya karena ia meninggalkan written text, yaitu surat-surat yang ditulisnya dan lalu diterbitkan dalam sebuah buku yang amat terkenal, “Habis Gelap Terbitlah Terang”. (Maria Hartiningsih: 2000). Berkaitan dengan buku di atas, tidak sedikit pula para ahli yang menyangsikan keasliannya sebagai karya asli Kartini (Saskia Eleonora Wieringa: 1999).

Kajian lain justru menunjukkan, tokoh seperti Dewi Sartika, sebenarnya jauh lebih jelas melakukan tindakan-tindakan aksi ketimbang Kartini yang tidak pernah melakukan apa-apa. Dewi Sartika mendirikan sekolah pertamanya pada tahun 1904 dengan nama Sekolah Istri dan selanjutnya diubah menjadi Sekolah Keutamaan Istri. Hingga tahun 1912, Dewi Sartika telah mendirikan 9 sekolah, jumlah yang mencapai 50% dari keseluruhan sekolah di Pasundan (Marianne Katoppo: 2000).

Kecurigaan sebagian peneliti terhadap written text itu, setidaknya bersandar pada kemungkinan adanya keinginan Belanda untuk membuktikan keberhasilan politik etis, dengan dibukanya peluang-peluang bagi bangsa Indonesia untuk mendapatkan pendidikan. Sebab, semangat pendidikan di Indonesia akibat politik etis—sesungguhnya tidak dimaksudkan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia, tetapi lebih untuk menunjang terselenggaranya pemerintah Hindia Belanda. Mereka yang telah mendapatkan pendidikan dimaksudkan agar bisa dapat bekerja di kantor-kantor pemerintahan Belanda. Sudah pasti, kebanyakan hanya menduduki jabatan pegawai rendahan. (Sukanti Suryochondro: 1995).

Tetapi, menurut Sukanti Suryochondro, setidak-tidaknya—meski tidak secara langsung, kebijakan politik etis telah membangkitkan semangat di kalangan kaum perempuan untuk bergerak dan berjuang mendapatkan persamaan hak pendidikan bagi perempuan. Buah dari semangat ini, berdirilah Poetri Mardika (1912), salah satu organisasi perempuan yang kelahirannya memang mendapat dukungan dari Boedi Oetomo (organisasi laki-laki). Dalam perkembangannya, Poetri Mardika pernah mengajukan mosi kepada Gubernur Jenderal pada tahun 1915 agar perempuan dan laki-laki diperlakukan sama di muka hukum.

Setelah ini berdiri banyak perkumpulan perempuan baik yang didukung oleh organisasi laki-laki maupun yang terbentuk secara mandiri oleh perempuan sendiri. Sebut saja misalnya, Pa¬wiyatan Wanito (Magelang, 1915), Percintaan Ibu Kepada Anak Temurun—PIKAT (Ma¬na¬do, 1917), Purborini (Tegal, 1917), Aisyiyah atas bantuan Muhammadiyah (Yogyakarta, 1917), Wanito Soesilo (Pemalang, 1918), Wanito Hadi (Jepara, 1919), Poteri Boedi Sedjati (Su¬ra¬baya, 1919), Wanito Oetomo dan Wanito Moeljo (Yogyakarta, 1920), Serikat Kaoem Iboe Soematra (Bukit Tinggi, 1920), Wanito Katolik (Yogyakarta, 1924). (Sukanti Suryo¬chondro: 1995). Dalam catatan sejarah, hampir setiap organisasi perempuan ini, menerbitkan majalah mereka sendiri sebagai media untuk membentuk opini publik sehingga gagasan-gagasan mereka terkomunikasikan ke dalam masyarakat luas.

Secara umum sifat tujuan organisasi tersebut adalah sosial dan kultural, memperjuang¬kan nilai-nilai baru dalam kehidupan keluarga dan masyarakat, mempertahankan ekspresi kebudayaan asli melawan aspek-aspek kebudayaan Barat yang tidak sesuai. Hampir tidak ada sumber yang bisa dilacak kegiatan politik macam apa, kecuali catatan-catatan yang lebih menunjukkan pada kegiatan-kegiatan sosial-budaya.

Gerakan nasionalisme juga berkobar di kalangan organisasi perempuan, dan pada tang¬gal 22 Desember 1928, diadakan Kongres Perempuan Indonesia I di Yogyakarta. Kongres ini melahir¬kan semacam federasi organisasi perempuan dengan nama Perikatan Perkumpulan Perempuan Indonesia (PPPI) dan pada tahun 1929, setahun setelah terbentuknya, diganti menjadi Peri¬kat¬an Perkumpulan Istri Indonesia (PPII). Pada awal berdirinya, upaya-upaya yang dilakukan adalah perhatian pada lingkungan keluarga dan masyarakat, kedudukan perempuan dalam hukum perkawinan (Islam), pendidikan dan perlindungan anak-anak, pendidikan kaum perempuan, perempuan dalam perkawinan, mencegah perkawinan anak-anak, nasib yatim piatu dan janda, pentingnya peningkatan harga diri perempuan, dan kejahatan kawin paksa. Perhatian ini meluas, misalnya, pada tahun 1935 dibentuk Badan Penyelidikan Perburuhan Kaum Perempuan—salah satunya rapat umum untuk perempuan buruh batik di Lasem Jawa Tengah, membentuk Badan Pemberantasan Buta Huruf, Badan Pemberantasan Perdagangan Perempuan dan Anak-anak (Sukanti Suryochondro: 1995).

Perkembangan gerakan perempuan semakin maju, ketika dalam Kongres Perempuan II, Maret 1932, isu nasionalisme dan politik muncul, selain soal perdagangan peremuan, hak perempuan dan penelitian keadaan sanitasi di kampung serta tingginya angka kematian bayi. Ki Hajar Dewantara, dalam pidatonya mengatakan, sangat terkesan dengan perjuangan feminis di Turki, Cina, Persia, dan India, yang memberikan kontribusi sangat besar bagi suksesnya perjuangan nasional di negara mereka. Dua tahun sebelum Kongres II ini, pada tahun 1930, Suwarni Pringgodigdo, mendirikan organisasi perempuan yang aktif dalam perjuangan politik, yaitu Istri Sedar di Bandung dan menerbitkan jurnal Sedar. Perjuangan lain, adalah upaya gerakan perempuan untuk menentang poligami yang dipandang merugikan perempuan.

Pada tahun yang sama dengan berdirinya Istri Sedar tahun 1930-an, para aktivis perempuan dalam Sarekat Rakyat mengorganisasikan demonstrasi politik untuk buruh perempuan dengan tuntutan kenaikan upah, kesejahteraan buruh dan keselamatan kerja. Salah satu aksi yang paling mencolok, sebenarnya justru demonstrasi yang dilakukan sebelumnya, yaitu pada tahun 1926 di Semarang yang menuntut perbaikan kondisi kerja bagi buruh perempuan, dengan memakai caping kropak.
Selama pembrontakan komunis pada tahun 1926 banyak perempuan ditahan bukan hanya karena mereka membantu suami mereka, tetapi juga karena aktivitas mereka sendiri. Bersama dengan laki-laki, banyak perempuan yang diasingkan ke Boven Digul, sebuah kamp konsentrasi Belanda di Irian Jaya. Sukaesih dari Jawa Barat, dan Munasiah dari Jawa Tengah termasuk di antara perempuan-perempuan tersebut. (Saskia E. Wieringa: 1988).

Pada Kongres Perempuan III, setelah melakukan pembubaran PPII, mulai dimunculkan isu tentang hak suara perempuan. Perempuan terus memperjuangkan hak politik atau keterwakilan perempuan, dengan memperjuangkan Maria Ulfa menjadi anggota Volksraad, meskipun gagal. Maria Ulfa kemudian terpilih menjadi menteri Sosial pada Kabinet Syahrir II (1946) dan S.K. Trimurti menjadi menteri Perburuhan pada Kabinet Amir Sjarifuddin (1947-1948). Pada pemilu 1955, gerakan perempuan Indonesia berhasil menempatkan perempuan sebagai anggota parlemen (Budi Wahyuni, dkk.:2002).

Perjuangan dan gagasan gerakan perempuan yang sedemikian kuat dan berani pada akhirnya menjadi sepi. Kentalnya patriarkhi yang melingkupi para penulis sejarah Indonesia, menjadikan gerak perempuan dalam konteks pembentukan bangsa ke arah kemerdekaan—tentu saja mencakup gerakan politik yang telah mereka lakukan, tersisihkan atau bahkan terhapuskan sama sekali. Kecuali catatan-catatan peran mereka dalam wilayah domestik, seperti dapur umum untuk para gerilyawan.

Di sinilah lantas muncul arus besar dalam pendidikan sejarah di Indonesia tentang peran laki-laki dalam perjuangan nasional dan nasionalisme kemudian menjadi sungguh-sungguh semata-mata wacana laki-laki (Catherine Hall, 1993). Padahal, sebagaimana ditegaskan, Catherine Hall, tak seharusnya ketertenggelaman perempuan dalam perjuangan nasional ini hilang. Sebab jika membaca berkembangnya motivasi utama yang mendorong gerakan kemerdekaan Indonesia adalah kekecewaan terhadap kekuasaan kolonial yang paternalistik dan berwatak menindas laki-laki, tetapi perempuan jauh lebih berat mengalaminya, baik dalam kehidupan publik maupun pribadi. Penindasan dua tingkat ini yang mendorong perempuan berpartisipasi aktif dalam gerekan kemerdekaan. Selain, hampir menjadi fakta tak terbantahkan, semua gerakan nasionalis Indonesia diorganisasikan oleh pemuda dan perempuan untuk memerangi rasa kedaerahan yang mewarnai gerakan kemerdekaan.

Dalam konteks inilah, mulai muncul kritik tajam terhadap ilmu pengetahuan sosial yang menyembunyikan pengalaman perempuan secara individu maupun kolektif, dalam seluruh kegiatan sosial, ekonomi, politik, dan kebudayaan. Kemunculan mereka dalam panggung sejarah gerakan nasional, misalnya, hanya dalam posisi penempelan atau menduduki posisi antagonis.

Memasuki babak baru gerakan perempuan Indonesia, ketika pada tahun 1946, setelah kemerdekaan diperoleh bangsa ini, organisasi perempuan mulai tumbuh, baik sebagai organisasi yang baru maupun kebangkitan kembali yang telah ada. Gerakan perempuan pasca kemerdekaan (masa Soekarno) ini, di samping tetap memperjuangkan agenda-agenda termasuk pasca pemberangusan di zaman Jepang, mereka terus memperjuangkan kesamaan politik, hak memperoleh pendidikan dan kesempatan bekerja. Persoalan yang dihadapi adalah tindakan diskriminatif antara laki-laki dan perempuan. Pada masa ini, meski demikian, hak politik yang sama setidaknya secara legal telah dijamin dalam pasal 27 UUD 45. Lalu lahir UU 80/1958, yang menjamin adanya prinsip pembayaran yang sama untuk pekerjaan yang sama, perempuan dan laki-laki tidak dibedakan dalam sistem penggajian.

Sejarah gerakan perempuan yang panjang ini, memang masih banyak menyisakan pertanyaan dan kebutuhan akan lacakan-lacakan yang lebih serius dan mendalam. Karena sangat dibutuhkan adanya landasan sejarah yang kuat dalam membangun gerakan perempuan saat ini.(Mega/Tim Sakral)

Bunda....."malaikat" Bagi Mahasiswa

Diposting oleh Sakral On 06.38 0 komentar
IBU. Sosok wanita yang hebat. Dibalik paras lembutnya ternyata menyimpan berjuta kekuatan dan ketulusan. Keberadaannya dibutuuhkan oleh semua orang. Sosok tak kenal lelah dalam merawat dan mengurus keluarga tanpa ada batasan waktu.
SAKRAL edisi kali ini akan membahas mengenai hari ibu yang dirayakan pada 22 Desember. Sosok Ibu kali ini adalah Rini Kanadiar (52), dosen psikologi FISIP UNPVJ yang juga merupakan dosen konseling, tempat dimana semua mahasiswa bisa mencurahkan segala unek-uneknya. Beliau begitu dekat dengan semua mahasiswa. Sosoknya yang ramah dan murah senyum ibarat "malaikat" jika berada di dekatnya akan merasa tenang. Tak heran hampir semua mahasiswa memanggil beliau dengan sapaan Bunda. Berikut adalah hasil wawancara SAKRAL dengan beliau beberapa waktu lalu.

Apa Tanggapan Anda tentang hari ibu?
Hari ibu merupakan satu hari yang luar biasa yang harus dirayakan oleh setiap orang, karena ibu merupakan sosok yang luar biasa.

Apa yang Anda lakukan dalam merayakan hari ibu?
Biasanya kami selalu "meratukan" mama dalam segala hal. Satu hari khusus buat mama terbebas dari semua pekerjaan rumah. Semua pekerjaan rumahku,papa, dan saudar-saudarku yang handle seperti memasak, cuci piring, dan pekerjaan rumah lainnya.

Perayaan hari ibu yang berkesan?
Hampir setiap perayaan hari ibu berkesan. Karena dalam bulan desember ada 2 peristiwa penting yang luar biasa yaitu ulang tahun mama dan hari ibu tentunya.

Bagaimana memandang sosok mama?
Mama adalah sosok yang disiplin,konsisten dan perfecionis. Hal sekecil apapun yang anak -anaknya langgar beliau akan mengetahuinya. Sehingga anak – anaknya menyebut mama detektif. Misalnya saja salah meletakan barang mama akan marah.

Sedekat apa dengan mama?
Kedekatanku dengan mama layaknya hubungan anak dengan ibunya. Akan tetapi, urusan curhat, pendidikan aku lebih merasa nyaman cerita dengan papa. Jika dulu aku yang membutuhkan mama,sekarang sebaliknya. Mama selalu protes jika dalam waktu seminggu aku belum mengunjunginya beliau akan menelponku terus, kerena menurut beliau akan merasa ada yang kurang.

Bagaimana keseharian dirumah bersama keluarga?ada hari khusus untuk keluarga?
Tak ada hari khusus untuk keluarga, menurutku 24 jam adalah untuk mereka. Keseharianku di rumah biasanya sehabis magrib aku mengundang anak – anak di sekitar rumahku untuk belajar matematika, makan malam bersama putri tunggalku dan juga suami,setelah itu aku habiskan untuk membaca buku yang sudah menjadi kebutuhan.

Bagaimana Anda bisa dekat dengan mahasiswa?
Kuncinya satu, aku selalu "memanusiakan" mereka karena setiap orang ingin diperlakukan seperti manusia selalu ingin diperhatikan.selalu mengawali semua dengan senyuman karena dengan senyum dapat mengerakan 26 otot wajah kita dan itu salah satu resep awat muda.satu lagi positif tking jika kita ingin disukai oleh semua orang.

Apakah Anda sudah merasa sukses sebagai seorang ibu?
Sukses adalah hasil yang didapat (material) yang bisa di ukur oleh orang lain. Aku tak dapat mengatakan aku sukses tetapi aku bisa mengatakan bahwa aku bahagia karena kebahagiaan hanya didapat dari diri kita sendiri.
Tak terasa obrolan SAKRAL dengan bunda rini berlangsung selama dua jam diselingi dengan curhat colongan. Satu pertanyaan terakhir SAKRAL lontarkan.

Bagaimana pendapat Anda tentang angkatan 2006 ?

LUAR BIASA!!!!!


Betapa tersanjungnya kami mendengar kata luar biasa yang tulus diucapkan oleh bunda.(reni&tika/Tim Sakral)

FISIP News Dipercayakan pada Jurnal Club

Diposting oleh Sakral On 06.09 0 komentar
Jakarta_ "suatu kebanggaan bisa meneruskan FISIP News."

FISIP News (FN) yang merupakan media praktek sebagai wadah untuk mahasiswa jurusan komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Pembangunan Nasional mempraktekkan hasil kuliah, dipercayakan untuk dikelola oleh Jurnal Club (JC). Rabu (17/12) pukul 10.00 anggota JC yang dihubungi sehari sebelumnya berkumpul di Lab.Hubungan Internasional Lantai 4 membahas status FN yang sempat fakum karena ditinggal pengurus sebelumnya. Gaib Maruto Sigit, Redaktur Pelaksana berharap FN tetap ada sebagai wadah memfasilitasi mahasiswa komunikasi. "sangat disayangkan jika media yangdifasilitasi fakultas tidak dimanfaatkan oleh mahasiswa," ungkapnya yang juga dosen praktisi komunikasi. Gaib juga menyampaikan pesan dari Yani Hendrayani M.Si kepala jurusan komunikasi bahwa FN untuk diamanatkan kepada JC.

Dalam pertemuan tersebut sebagian dari pengurus JC tidak mengetahui maksud dari mereka dipanggil oleh Agustinus Y.S asisten redaktur pelaksana, teryata ini merupakan kejutan bagi JC yang mayoritas adalah mahasiswa angkatan 2006 untuk mengelolah FN. "suatu kebanggan bagi kami meneruskan FN," timpal Gigih Irvan ketua JC.

Beberapa anggota JC menganggap bahwa natinya bila FISIP News dikelola oleh JC, JC tidak akan independen dan akan terikat oleh FISIP. Gaib Maruto menepis tudingan tersebut, "kalian bebas memberitakan rubrik apa saja disini sekalipun itu menyangkut FISIP sendiri," tambahnya.

FN akan menjadi media tambahan yang akan dikelola oleh JC, sebelumnya JC hanya mengandalkan blog sakral dan sakral-Magazine, serta majalah dinding yang ditempatkan sekitar FISIP. Dalam penerbitan FN, JC akan bekerjasama dengan mahasiswa konsentrasi periklanan untuk melayout dan mendesign. Pertemuan yang belangsung sekitar dua setengah jam akan dilanjutkan Senin depan untuk memprogram penerbitan edisi awal tahun 2009. (aal/sakral)