Posted by Author On Month - Day - Year

POST-SUMMARY-HERE

POST-TITLE-HERE

Posted by Author On Month - Day - Year

POST-SUMMARY-HERE

POST-TITLE-HERE

Posted by Author On Month - Day - Year

POST-SUMMARY-HERE

POST-TITLE-HERE

Posted by Author On Month - Day - Year

POST-SUMMARY-HERE

POST-TITLE-HERE

Posted by Author On Month - Day - Year

POST-SUMMARY-HERE

Pengaruh Krisis Global Terhadap Dunia Jurnalistik

Diposting oleh Sakral On 07.22
Krisis ekonomi global yang di sebabkan krisis kredit pemilikan rumah (KPR) di Amerika Serikat, ternyata telah menjadi momok bagi sebagian masyarakat dunia. Ini menjadi gambaran penting bahwa kondisi perekonomian di dunia pada saat ini sedang di guncang akibat krisis keuangan . tidak terkecuali dalam dunia jurnalistik. Dunia yang kegiatannya tulis menulis ini, tidak luput terkena dampak dari ‘penyakit dunia’ yang banyak menyebabkan perusahaan-perusahaan gulung tikar.

Berbicara masalah jurnalistik terkait adanya krisis global, ada tiga sektor yang perlu di tekankan. Pertama adalah sektor pemilik modal, artinya tidak di pungkiri jurnalistik dominan bernaung pada suatu media yang di kuasai olah pemilik modal. Media Indonesia oleh Surya palloh, Jawa pos oleh Dahlan iskan ataupun TVOne oleh group bakrie.

Semuanya adalah gambaran bahwa kedidaktoran sang pemilik modal dapat mempengaruhi kinerja jurnalis dalam menuangkan idealisnya untuk disampaikan ke masyarakat. Singkatnya, apabila perusahaan media tersebut bangkrut ataupun terkena masalah keuangan, maka pengurangan jurnalis dan keterbatasan kreatiivitas di media tersebut tidak dapat di hindarkan.
Yang di takutkan yakni, sebuah idealis yang menyajikan sebuah berita yang berimbang, fakta dan aktual sudah semakin sulit di terima di masyarakat. Padahal jurnalistik merupakan penyambung lidah antara publik dengan sumber berita.

Kedua, kesejahteraan. Kita ketahui gaji untuk seorang jurnalis di Indonesia belum sesuai dengan tanggung jawab serta resiko yang embannya. Apalagi dengan adanya krisis global. Loyalitas dan keprofesionalan tidak sedikit di pertaruhkan dengan ‘uang amplop’, indikasinya yaitu semakin banyak munculnya wartawan bodrex ataupun sejenisnya.

Selain itu, jurnalis nomaden akan sering di temukan, maksudnya perpindahan jurnalis dari satu madia ke media lain akan sering terlihat. Hal ini secara tidak langsung menimbulkan hilangnya ‘jatidiri’ dari media itu sendiri. Sebuah ciri khas akan tampak berbeda apabila di tinggalkan jurnalis yang sudah bekerja bertahun-tahun.

Ketiga, berkurangnya populasi jurnalis. Karena melihat begitu rendahnya taraf gaji yang di terima sebagai pahlawan tinta, maka saya tidak akan heran bila jurnalis di kemudian hari jumlahnya semakin berkurang. Bila di bandingkan dengan Negara tetangga Malaysia, kita saja masih jauh tertinggal dalam hal imbalan sebagai jurnalis atau yang lebih di kenal dengan sebutan wartawan.

Tidak itu saja, belum lagi masalah tidak adanya asuransi untuk profesi ini. Krisis global yang melanda hampir seluruh belahan dunia, di rasakan pemerintah makin sulit untuk mengabulkan adanya asuransi untuk seorang jurnalis.

Asuransi itu sendiri di anggap penting, karena dalam kegiatan jurnalistiknya tidak ada pihak yang bertanggung jawab terhadap keselamatan jurnalis. Yang ada hanya sebuah santunan ataupun bantuan dari naungan medianya.

Ironis untuk sebuah profesi yang tanggung jawabnya sangat berat tetapi tidak menerima imbalan yang setimpal. Inilah potret sebuah ketidakadilan. Betapa sulit sebuah idealis di setarakan dengan materi di jaman seperti ini.
Pengaruh krisis global di rasakan semakin ’mandul’ untuk melahirkan jurnalis-jurnalis muda yang di harapkan bisa meciptakan proses kegiatan jurnalis yang berkualitas, mengedepankan loyalitas serta naluri sebagai pahlawan tinta.adie

0 Response to "Pengaruh Krisis Global Terhadap Dunia Jurnalistik"

Posting Komentar