Rasa takut menjalar ke seluruh tubuh manakala memasuki kawasan tersebut. Bayangan tentang orang-orang aneh nan menakutkan masih membayangi pikiran. Tetapi semua itu terbantahkan ketika murid-murid dari Selolah Luar Biasa (SLB) ini menyambut dengan keramahan. Ada yang tersenyum. Bahkan ada juga yang langsung mengajak berkenalan. Sungguh diluar pikiran. Ternyata mereka cukup menyenangkan.
Sekolah yang terletak disebelah SMU 66 Jakarta ini dipenuhi dengan pepohonan yang cukup rindang. Ada sarana bermain seperti prosotan dan ayunan. Dindingnya pun dipenuhi gambar hewan dercat warna-warni. Layaknya sekolah Taman Kanak-Kanak. Juga ada lahan parkir. Disitu tergeletak mobil Carry yang berguna mengantar-jemput murid-murid di sekolah ini. Sekolah ini terdiri dari ruang kepala sekolah yang didalamnya terdapat banyak piala. Sekitar dua puluh piala tersusun rapi didalam lemari. Piala itu hasil kerja keras murid-murid dalam setiap perlombaan. Mulai dari lomba lari sampai lomba menari dan menyanyai mereka turut ikut serta. Ada pula ruang guru, dapur, dan ruang berkumpul. Ruang makan juga turut menyemarakan sekolah ini. Tempat ini dipergunakan hanya pada hari sabtu. Disini murid bisa makan bersama-sama penghuni sekolah lainnya. Yang menjadi ruang favorit murid-murid adalah ruang menenun. Diruangan berukuran 7x8 meter initrdapat empat mesin tenun. Tampaknya murid-murid sudah mahir menenun. Andi Lubis, 34 tahun telihat asik memainkan mesin yang terbuat dari kayu ini. Tangannya tampak begitu terampil. Satu demi satu benangditenun menjadi lembaran kain pel. Yaa..selain belajar akademis, murud-murid diajarkan pula membuat kerajinan seperti kain pel, taplak meja, dan lain-lain. Hebatnya hasil karya mereka tidak hanya diletakkan disekolah. Tetapi setiap minggu berlembar-lembar kain pel didistribusikan ke sekolah St. Carolus. Dengan Rp 7500/ lembar. “ Aku suka banget nenun, bu guru yang ngajarin. Abisnya aku jadi bisa dapet duit. Bu guru ngasih lima ribu setiap hari,” kata Andi sambil tersenyum.
Sekolah Luar Biasa dengan nama Budi Karya ini terletak di Jalan Bango, Pondok Labu, Cilandak, Jakarta Selatan. Sekolah ini berdiri pada 1978. Awalnya hanya terdiri dari Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB) dan Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa (SMPLB) saja. Tetapi dari SLB lain banyak yang mengirimkan lulusannya (SMPLB) ke SLB Budi Karya. Maka ditambahlan Sekolah Menengah Umum Luar Biasa (SMULB). Jadi, di SLB Budi karya memiliki tiga jenjang pendidikan yakni SDLB, SMPLB, dan SMULB. Untuk urusan usia sekolah ini tidak seperti sekolah lain. Untuk SDLB berkisar antara 6-15 tahun. SMPLB 15-23 tahun. SMULB 23- tidak terbatas. Selain itu dalam belajar murid laki-laki dipisah dengan perempuan. Bahkan ada murid yang berusia 66 tahun. Yaitu Yoni. Pria berwajah oriental ini masih bersemangat sekolah. Ia jarang sekali absen dalam setiap pertemuan. Seperti kebanyakan pengidap down syndrome lainnya, walaupun sudah uzur kelakuannya masih seperti anak-anak. “Aku senengnya main prosotan sama ayunan, aku juga bisa nenun loh,” kata laki-laki yang berdomisili di Gandul, Depok dengan senyum khasnya. Terlihat giginya menguning. Menandakan kalau ia jarang sikat gigi. Memang hanya untuk sikat gigi saja mereka harus diajarkan. Tentu diajarkan oleh guru-guru yang sangat sabar.
Diantara guru-guru yang sabar itu adalah Maman Karnani, 56 tahun. Pria kelahiran Ciamis ini sudah bekerja sejak pertama kali sekolah ini didirikan. Dengan sabar ia mengajar murid-murid yang terkadang suka mengamuk ini. “Waktu itu teh ada murid yang mengamuk, trus temennya dihajar sampe kepalanya bocor,” kata bapak beranak tiga dengan logat sundanya. “Kalau ada yang ngamuk saya harus kerasin baru mereka mau dengar. Kalau kitanya takut mereka malah balik nyerang kita,” tambahnya.
Di sekolah yang murid-muridnya mempunyai IQ antara 30 sampai 75 ini mempunyai 4 guru tetap, 1 guru Bantu, 2 pegawai tata usaha, 1 supir dan 1 pesuruh. Dengan jumlah murid 25. Ttapi setiap harinya yang datang hanya 10 sampai 15 orang. “Disini mah muridnya jarang yang dating semua. Paling-paling Cuma 10 sampe 15 orang setiap hari. Malah ada juga murid yang udah berbulan-bulan ga sekolah eehh tiba-tiba sekolah lagi,” jelas Tati Hartati, salah satu guru tetap di sekolah ini. “Kalau dah begitu murid ga usah daftar ulang lagi. Malah banyak juga murid yang ga bayar sekolah. Kalau ada yaa bayar seikhlasnya aja. Ada yang bayar 50 ribu sebulan. Malah ada yang 10ribu,”lanjutnya. Perempuan kelahiran Garut ini sudah mengabdi untuk sekolah yang dulu sering dijadikan tempat observasi warga asing selama 26 tahun. Dengan sabar dan tekun beliau mengajar murid-murid tuna grahita ini. Menurut ibu 3 anak ini ada 3 tipe orang penderita down syndrome. Normal, muka seperti orang pada umumnya. Mongolisme, muka seperti orang Cina dan rata-rata wajah hampir sama. Beliau juga menjelaskan penyebab dari cacat mental. Yakni pranatal,. Penyebab ini terjadi ketika bayi masih dalam kandungan. Ketika hamil sang ibu sering mengalami shock berat dan minum minuman keras. Faktor keturunan juga turut menjadi penyebabnya. Bahkan perempuan 49 tahun ini pernah mengajar 3 orang murid pengidap down syndrome yang berasal dari satu keluarga. Penyebab lainnya adalah faktor posnatal. Terjadi ketika sang anak sudah lahir. Waktu kecil anak tersebut sering jatuh atau panas yang berkepanjangan. Pada orang dewasa biasanya karena benturan yang keras di kepala atau gegar otak.
Murid-murid di sekolah yang buka mulai 07.30 sampai 12.30 WIB ini sangat aktif. Bahkan hiperaktif. Meskipun ada juga yang pendiam. Rudi Budi Harjo, 38 tahun. Ia adalah salah satu murid yang hiperaktif. Pria yang bercita-cita sebagai pemain sepakbola ini sepanjang hari hanya menceritakan bola saja. Walaupun mengidap cacat mental ia sangat mudah bergaul. Ia juga “nyambung” ketika diajak bicara. Tampak bukan seperi orang pengidap penyakit yang menyerang otak ini. Hanya kelakuannnya saja yang seperti anak-anak. Ia juga kesulitan dalam membaca dan menulis. Meskipun begitu ia pandai menenun.”Aku suka nenun. Trus nonton bola. Aku juga suka banget sama Gerrard dari Liverpool,” ujar laki-laki yang mengaku mempunyai mobil Mercy ini dengan tawa yang riang. “Pulang sekolah aku makan trus bobo. “Trus nonton Liga Inggris deh,” sambung Budi. Untuk kesekolah ia biasa diantar-jemput menggunakan mobil jemputan yang disediakan sekolah. Biayanya cukup mahal. Berkisar antara Rp 400 sampai 500 ribu.
Salah satu murid yang pendiam adalah Dewi. Perempuan yang bercita-cita menjadi dokter ini memang cukup pemalu. Tapi ia suka bercanda. Sehari-hari ia kesekolah menggunakan seragam SMU dan berjilbab. Murid 35 tahun ini suka menyulam. Hasil karyanya berupa taplak meja.
Banyak yang dapat dilakukan disekolah yang mendapat subsidi dari pemerintah tersebut. Seperti belajar, menenun, menyulam, menari dan menyanyi. Suce termasuk murid yang gemar menyanyi dan mendengar radio. Tapi ia termasuk murid pendiam dan cenderung suka menyendiri. Selain itu ia juga tidak duka diusik. Kalau kesal ia tidak akan segan-segan untuk mengamuk. Bahkan karena ulahnya ada murid yang kepalanya bocor akibat dipukul menggunakan kursi. Pria 50 tahun ini juga mengidap penyakit kaki gajah. Sehingga terlihat sulit berjalan.
Murid termuda disekolah yang dulu sering mendapat bantuan asing ini adalah Nurahmah. Gadis 13 tahun ini dahulu sekolah di Sekolah Dasar pada umumnya. Tapi karena tidak naik akhirnya ia dipindahkan ke SLB tersebut. Menurut Tati ia mengidap cacat mental awal. IQnya 75. Tidak heran apabila ia pandai menulis. diajak bicara pun masih “nyambung”.
Ternyata orang cacat pun masih bisa menghasilkan sesuatu. Jangan melihat orang hanya dari luarnya saja. Hidup ini harus banyak bersyukur. Masih banyak saudara-saudara kita yang kurang beruntung. Manfaatkan waktu sebaik mungkin. Karena waktu tidak mungkin terulang kembali.
Gerimis turun dengan santainya ketika saya ingin pulang. Sambil menunggu gerimis reda saya pun kembali bersenda gurau dengan makhluk ciptaan Tuhan yang hebat ini. Gerimis pun reda. Saya bergegas untuk pulang. Diiringi senyuman dan lambaian tangan mereka saya keluar dari sekolah itu. Samar-samar terdengar “Kapan-kapan main kesini lagi ya, Kak". (nunu)
Nurni Zamzami


0 Response to "Orang Cacat Juga Bisa Berkarya"
Posting Komentar